Setelah hampir seminggu berlalu dari disahkannya Undang Undang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE), banyak muncul beragam reaksi dari kalangan pengguna internet Indonesia. Banyak yang mendukung, tapi juga tidak sedikit yang tidak mendukung langkah Pemerintah tersebut, bahkan juga diwarnai aksi deface web departemen pemerintah dan salah satu partai politik.
Dari beragam sikap yang muncul dari disahkannya UU ITE tersebut, saya termasuk dalam kelompok yang tidak sependapat dengan materi dalam UU tersebut terutama berkaitan dengan pornografi. Maaf saja, namun ini era keterbukaan. Boleh saja berbeda pendapat. Mengapa demikian? Sebagian besar alasan saya sama dengan yang dikemukakan Pak Budi Rahardjo dalam blognya. Namun ada beberapa hal yang ingin saya tambahkan sebagai renungan, mengapa saya dalam hal ini berbeda pendapat dengan apa yang terkandung dalam UU ITE terkait dengan pornografi.
Pertama, sisi utama internet adalah kebebasan. You control your self what information you want and how to extract them. Inilah ciri utama internet dimana terdapat jutaan informasi. Dan esensinya adalah kebebasan informasi. Sensor internet hanya akan mengakibatkan ketakutan bagi pengguna internet terhadap penggunaan internet itu sendiri. Selain itu, definisi dari pornografi sendiri menurut saya belum memiliki batasan yang jelas. Saya lebih cenderung Pemerintah menyediakan proxy yang bebas pornografi dimana siapapun dapat menggunakan proxy tersebut, termasuk sekolah maupun warnet. Masih banyak cara lain mengatasi pornografi namun tidak secara terpusat. Kunci utama dalam mengatasi pornografi adalah edukasi. Dibuat pengakses pornografi malu sendiri kalau mereka mengakses konten pornografi. Ini adalah cara yang manjur selain law enforcement yang kuat dimana pengakses konten porno harus berusia dewasa (katakanlah 18 tahun ke atas). Sekedar share, saya pernah berkunjung ke adult shop di Sdyney dan saya mendapati tempat tersebut sepi, padahal took itu legal dan buka di tempat umum. Namun tidak seperti Glodok yang sangat ramai, yang bukan rahasia lagi banyak dijual DVD-DVD film porno. Mengapa? Karena meskipun legal, orang segan mengakses adult shop karena malu. Dengan edukasi, kebebasan yang kita miliki akan berubah menjadi kebebasan yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Kedua, melakukan filter terhadap internet membutuhkan dana dan resource yang sangat besar. Dari beberapa berita yang saya baca bahkan telah dianggarkan biaya 30 trilyun. Sangat besar untuk Negara kita yang masih belum pulih dari terpaan krisis ekonomi. Namun apakah efektif? Oke saya yakin banyak sekali ahli ahli kita yang mampu melakukannya. Tapi apakah bisa melakukan blok terhadap peer to peer ataupun tunneling? Kalau dua hal ini juga diblok, tamatlah riwayat internet di Indonesia. Selain tidak efektif masih lebih baik dananya dipakai untuk pendidikan dan kesehatan. Mengapa sibuk menyensor pornografi dengan dana yang sangat besar sementara diluar sana kemiskinan dimana mana, ada ibu hamil meninggal kelaparan, balita gizi buruk, korban bencana alam dan lain lain? Masih banyak yang perlu diperhatikan. Selain itu sensor internet juga tidak efektif bila diluar sana konten pornografi masih lebih mudah diakses. Membeli dvd mudah, majalah majalah semi bugil bebas beredar, televise menyiarkan acara-acara seronok, yang semuanya bahkan jauh lebih mudah dan murah untuk diakses oleh siapapun, bahkan oleh anak di bawah umur.
Rasanya perlu menengok internet ke beberapa negara tetangga. Singapura, Malaysia, Thailand sudah jauh meninggalkan kita dalam hal penyediaan internet dengan badwidth yang lebar dan harga terjangkau. Bisa kita saksikan pula seberapa majunya mereka. Apakah mereka bebas pornografi? Saya yakin tidak. Namun mereka bias dewasa menggunakan internet sehingga bisa menjadi bermanfaat. Dalam kacamata saya sebagai pelajar, internet sangat bermanfaat untuk studi, melakukan riset, mencari materi materi sesuai bidang kita dan banyak lagi. Masih ada seribu satu manfaat internet lainnya di berbagai bidang yang akan sangat panjang untuk ditulis disini.
Hal-hal tersebut hanyalah sebuah opini saya sebagai manusia, yang juga warga Negara yang ingin negaranya lebih maju. Saya tetap respek dengan siapapun yang punya pendapat berbeda, karena tujuannya sama, ingin negara kita lebih baik. Saya bukan anti pornografi, tapi saya hanya beropini, sampai kapanpun internet adalah bagaikan pisau bermata dua. Bisa mengiris sampai berdarah-darah bila tidak berhati-hati namun bisa sangat bermanfaat bila tahu cara menggunakannya.
Halo saya setuju dengan pendapat anda, yang lebih bisa mengontrol adalah diri kita. Untung dan ruginya juga harusnya diri kita yang bisa menilai (kita disini adalah orang dewasa tentu saja).
Salam kenal Pak bosangjay. Emang bener, intinya kitalah yang bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, termasuk juga menggunakan internet. Karena saya percaya mash jauh lebih banyak manfaat internet daripada bahayanya, tentu bagi yang menggunakannya dengan bijaksana.
Masalahnya, kapan internet bisa terjangkau oleh masyarakat dan mampu memberdayakan masyarakat itu sendiri. Semoga rencana Pak Menkominfo untuk memperluas internet broadband dapat berjalan