Hari Selasa 25 Maret 2008, Tim KNKT (Komisi Nasional Keselamatan Transportasi) membeberkan hasil investigasi terhadap misteri hilangnya Adam Air di Majene Sulawesi Barat. Berita selengkapnya dapat dibaca di sini. Menarik untuk dikaji lebih jauh seputar hasil investigasi tersebut.
Singkatnya, dari kesimpulan yang dipaparkan bahwa penyebab kerusakan adalah kerusakan perangkat IRS (Internal Reference System) atau alat navigasi pesawat 13 menit sebelum jatuhnya pesawat. Karena memperbaiki kerusakan itulah pilot tidak menyadari pesawat sudah berubah orientasi menukik dan jatuh. Ada beberapa hal menarik yang perlu dipertanyakan terkait hal ini.
Pertama, mengapa hasil investigasi ini disampaikan pada publik setelah Adam Air dicabut izin operasinya? Padahal tenggang waktu antara pangambilan blackbox, keberhasilan pembacaan blackbox yang menurut berita dilakukan di luar negeri sudah begitu lama tapi hasil investigasinya baru disampaikan sekarang, dimana mungkin hasil investigasi tersebut sangat bermanfaat untuk mencegah terulangnya kejadian tersebut. Dan lagi, bagaimana dengan pemaparan investigasi kecelakaan yang lain yang juga menelan banyak korban? Lion Air di Solo, Mandala Air di Medan, ataupun Garuda di Sibolangit Sumatera Utara?
Kedua, ada hal yang tidak disampaikan pada publik. Dari berita di internet di salah satu situs (dapat dibaca di sini), bahwa selama Oktober – Desember 2006 terjadi 154 kali kerusakan IRS (rata-rata 51,3 kerusakan perbulan) milik pesawat Adam Air yang ada dalam laporan namun tidak disampaikan ke publik, tapi diberitakan di berita luar negeri. Mengapa hal tersebut sampai terjadi? Sebegitu lemahnyakah pengawasan, dalam hal ini maskapai dan Pemerintah yang bertanggung jawab,terhadap instrument yang sangat penting ini sehingga dapat dengan mudah diberi ijin laik terbang? Publik masih belum lupa terhadap kasus nyasarnya Adam Air di Tambolaka, yang terang terangan Adam Air bahkan menerbangkan lagi pesawatnya sebelum diperiksa KNKT. Selanjutnya, tidak disampaikannya hal ini pada publik juga menyiratkan adanya penyembunyian informasi. Dari sumber diatas, media Jepang sudah meliputnya (Copyright ? 2008 Kyodo News International, Inc), tapi kemana media Indonesia? Semoga dengan diberlakukannya UU ITE baru baru ini tidak membuat masyarakat semakin kehilangan informasi.
Ketiga, apakah sebegitu rendahnyakah nyawa manusia dihargai di Indonesia?Dari diskusi di salah satu forum airline (beritanya di sini) beberapa bulan sebelum kecelakaan tersebut , instrument yang sama sudah sering bermasalah tapi sejarah membuktikan bahwa hal tersebut dibiarkan sampai terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa banyak orang. Sedikit menengok standar keselamatan yang dilakukan oleh maskapai dari negara tetangga, Singapore Airlines, yang menetapkan keselamatan begitu tinggi. Contohnya ada defect pesawat saja langsung membuat pesawat tidak jadi diterbangkan. Beritanya dapat dibaca di sini.
Saya hanyalah pengguna biasa yang sering bepergian dengan pesawat salah satunya Adam Air baik untuk keperluan dinas maupun pribadi (kebetulan Adam Air ini punya jadwal paling pagi ke Jogja dan juga paling pagi juga ke Jakarta dari Jogja) sehingga saya sering menggunakannya namun tidak mengetahui kondisi sebenarnya dari pesawat yang saya tumpangi. Semoga Pemerintah lebih meningkatkan pengawasan terhadap transportasi khususnya transportasi udara mengingat tingginya kebutuhan transportasi udara dalam beberapa tahun kedepan, sehingga bisa menjamin keamanan bagi penumpangnya.